Provinsi Jawa Barat terkenal dengan etnis suku Sunda yang memiliki kekayaan seni beragam. Alat musik Karinding merupakan salah satu jenisnya. Sebagian besar orang mungkin terasa asing saat mendengarnya. Namun, bagi warga Sunda di Jawa Barat, alat musik ini menjadi warisan budaya tak benda yang sangat bernilai.
Karinding merupakan salah satu alat musik tradisional yang mempunyai sejarah panjang dan kaya. Ini tentu mencerminkan kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Sunda yang patut dilestarikan. Untuk mengenal lebih dalam terkait alat musik tersebut, maka simak ulasan selengkapnya dalam artikel berikut ini!

Asal Usul dan Sejarah Alat Musik Karinding
Karinding merupakan alat musik yang masuk dalam kategori idiofon. Artinya, alat musik ini menghasilkan suara dari getaran bahan dasarnya sendiri tanpa membutuhkan senar atau membran. Alat musik ini terbuat dari bahan-bahan alami. Misalnya seperti bambu atau kayu dan pelepah aren. Bentuknya cukup sederhana dan umumnya berupa bilah atau papan kecil dengan celah di bagian tengahnya.
Sejarah alat musik ini tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Sunda. Terutama yang berkaitan erat dengan alam dan tradisi lisan. Menurut sejarah, Karinding telah ada sejak zaman prasejarah. Awalnya, alat musik tradisional ini digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari. Namun, kini fungsinya mencakup aktivitas sosial dan budaya karena kerap dimainkan dalam berbagai perayaan.
Fungsi dan Penggunaan
Selain sebagai alat musik, Karinding juga digunakan dalam ritual dan upacara adat. Suaranya yang sangat khas diyakini mempunyai kekuatan magis dan spiritual. Alat musik ini kerap dimainkan dalam kelompok musik tradisional, di mana alat ini berpadu dengan alat musik lain. Misalnya seperti gamelan, celempung dan kendang.
Di luar upacara adat, alat musik ini juga memegang peranan penting dalam hiburan dan pendidikan. Biasanya sering dimainkan dalam acara-acara komunitas atau sebagai pembelajaran budaya bagi pelajar. Musiknya mempunyai karakteristik unik dan menarik, dengan melodi mengandung pesan moral.
Berdasarkan ulasan keterangan dalam video YouTube Bapenda Jabar, Karinding pertama diciptakan di Tatar Sunda. Kesenian ini berupa bilahan kecil yang memanfaatkan resonator rongga mulut untuk menghasilkan bunyi dengung. Fungsi awalnya sebagai alat pengusir rasa bosan para petani saat menunggu padi di sawah. Perkembangannya kini menjadi salah satu bagian dari kekayaan kesenian Sunda.
Filosofi dan Makna Alat Musik
Alat musik Karinding mempunyai makna kata Hariring nu ngadalingding. Artinya adalah nyanyian yang memberikan ketentraman. Di dalam alat musik tersebut, tentu mempunyai filosofi mendalam. Pada bagian pancepengan adalah “yakin.” Artinya bahwa setiap orang dapat memainkannya dengan baik.
Kemudian, bagian cecet ucing adalah”sadar” berarti suara yang keluar bukan suara diri, tapi alam semesta. Terakhir, bagian ujung (paneunggeul) adalah “sabar” untuk memainkannya.
Bagi masyarakat Sunda, alat musik ini bukan hanya sekedar alat musik karawitan biasa. Namun, menjadi sebuah ajaran dari leluhur atau nenek moyang yang harus dilestarikan. Terdapat nasihat yang terkandung di dalamnya. Misalnya untuk bersikap sederhana, hidup rukun dalam kedamaian dan menumbuhkan kasih sayang.
Karinding dalam Era Modern
Di era modern, alat musik Karinding mengalami berbagai tantangan. Khususnya dengan masuknya teknologi dan globalisasi yang berhasil mempengaruhi cara orang mendengar musik. Kendati begitu, alat musik tersebut tetap menjadi simbol penting warisan budaya Sunda.
Banyak komunitas dan organisasi budaya yang selalu aktif mempromosikan dan melestarikannya. Misalnya melalui berbagai kegiatan, seperti festival musik dan workshop Karinding.
Perbandingan Alat Musik Karinding dan Tarawangsa
Perbedaan utama antara Karinding dan Tarawangsa terletak pada jenis serta cara memainkannya. Karinding merupakan alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara disentil menggunakan ujung jari di bibir, menyerupai mirliton atau alat musik tiup yang berfungsi menyaring suara.
Sementara itu, Tarawangsa bukan hanya sekadar satu instrumen. Namun merupakan sebuah kesenian yang terdiri atas dua alat musik, yakni alat gesek mirip rebab yang disebut tarawangsa, serta alat petik bernama kacapi jentreng.
Saat ini, beberapa musisi dan komposer modern telah mengadaptasi alat musik Karinding ke dalam karya mereka. Tentunya dengan menggabungkan elemen tradisional dan genre musik kontemporer. Aksi ini tidak hanya membantu menjaga kelestarian Karinding saja. Akan tetapi, juga sekaligus memperkenalkan alat musik tradisional ini kepada penonton secara lebih luas. /Estri



