Dalam gelaran orkestra tradisional gamelan Jawa, selain dentuman gong dan kendang, terdapat suara merdu lain yang mengisi celah-celah nada. Melodi unik ini dihasilkan dari petikan senar yang umum disebut alat musik siter. Instrument ini satu-satunya alat musik petik dalam gamelan yang menyimpan daya pikat dan keunikan tersendiri.

Apa Itu Alat Musik Siter?
Siter adalah alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara dipetik dan merupakan bagian integral dari gamelan Jawa. Namanya berasal dari kata dalam bahasa Belanda, citer, yang berhubungan dengan kata dalam bahasa Inggris, zither. Secara fisik, siter seringkali disamakan dengan kecapi Sunda. Namun, keduanya memiliki perbedaan dalam cara penempatan dan memainkannya.
Sebagai keluarga zither, sumber suara siter berasal dari dawai atau kawat yang direntangkan di atas sebuah kotak resonator. Kotak resonator ini biasanya terbuat dari kayu, dengan kayu jati sering dipilih sebagai bahan utamanya. Dawainya terbuat dari kawat baja yang mampu menghasilkan suara nyaring dan jernih.
Mengulik Ciri Khas dan Bentuk Fisik Siter
Secara visual, siter memiliki karakteristik yang mudah dikenali. Instrumen ini berbentuk kotak persegi panjang atau trapesium yang berongga di bagian dalamnya. Ukurannya relatif kecil, dengan panjang umum sekitar 30 centimeter. Berikut adalah beberapa ciri khas dari alat musik siter:
- Memiliki 11 hingga 13 senar.
- Ada variasi yang menggunakan 26 senar yang disetel berpasangan seperti pada mandolin.
- Memiliki dua sisi nada yang berbeda dalam satu badan alat musik yaitu laras pelog (tujuh nada) dan laras slendro (lima nada).
- Terdapat kaki-kaki kecil yang terbuat dari kayu sebagai penyangga. Kaki depan biasanya dibuat lebih tinggi agar posisi duduk pemain lebih nyaman.
Perbandingan Jenis Siter dalam Gamelan
Dalam praktiknya, alat musik siter tidak berdiri sendiri. Alat musik ini memiliki beberapa jenis yang melengkapi satu sama lain dalam ansambel. Siter standar adalah yang paling umum, dengan panjang sekitar 30 cm dan 11-13 senar.
Sedangkan, siter penerus berukuran lebih kecil dari siter standar dan dimainkan satu oktaf lebih tinggi. Siter penerus berperan memainkan cengkok atau pola melodi hiasan dengan tempo yang cepat.
Selain itu, ada juga Celempung yang bisa dianggap sebagai “kakak besar” dari siter. Ukurannya jauh lebih besar, sekitar 90 cm dan memiliki empat kaki. Celempung disetel satu oktaf di bawah siter biasa. Sehingga menghasilkan nada-nada yang lebih rendah dan berat. Siter dan celempung sering dimainkan bersama sebagai sebuah pasangan.
Fungsi Unik Siter dalam Irama Gamelan
Fungsi utama siter dalam gamelan adalah sebagai panerusan atau alat musik yang memainkan cengkok berdasarkan kerangka melodi dasar. Suaranya yang lembut dan jernih berperan untuk memperindah dan memperkaya tekstur musik gamelan.
Keunikan alat musik siter terletak pada kemampuannya mengimbangi suara alat musik lain yang lebih dominan seperti saron dan gong. Sekaligus menambahkan warna nada yang harmonis dan melodius. Dalam pertunjukan wayang, siter berfungsi sebagai pangrengga lagu, yaitu alat musik yang mengisi dan menghias alur lagu.
Cara Tuning dan Memainkan Siter
Berdasarkan pengalaman @MEJASENI yang dibagikan di YouTube channelnya, kunci L membantu menyelaraskan nada agar menghasilkan suara yang tepat dan harmonis. Terutama dalam tangga nada slendro. Setelah proses tuning, posisi tangan saat memainkan siter juga harus benar. Tangan kiri diletakkan di atas kawat, sementara tangan kanan memetik dari bawah untuk mengontrol nada yang ingin dimainkan, sekaligus meredam bunyi yang tidak diinginkan.
Teknik memetiknya pun beragam, mulai dari petikan biasa hingga teknik kecek yang menimbulkan suara “cek..cek..cek” dengan menekan senar. Teknik lain seperti tabuhan imbal atau bergantian antara tangan kanan dan kiri. Serta ngracik yang membentuk kalimat lagu juga digunakan untuk menciptakan variasi melodi yang dinamis.
Dari bentuknya yang sederhana, hingga fungsi dan teknik permainannya yang unik, alat musik siter merupakan instrumen yang merepresentasikan musik khas Jawa. Melestarikan dan mempelajarinya sama dengan menjaga kelestarian budaya yang tak ternilai harganya. /Fitri



