Mengenal Alat Musik Piano, Sejarah, Jenis, Cara Kerja dan Tips Berlatih

Posted on

Piano merupakan salah satu piranti musikal yang cukup populer. Baik di konser klasik, jazz, pop, hingga film, alat musik piano hadir sebagai pelengkap yang mampu menyampaikan emosi secara mendalam. Mereka juga tergolong unik karena terbagi dalam instrumen dawai sekaligus perkusi.

Suara lembut hingga keras dari sentuhan jari pada tuts-tutsnya membuat piano menjadi alat musik yang ekspresif sekaligus fleksibel. Mari mengenal sejarah, jenis, hingga cara kerjanya untuk memperkaya pengalaman bermusik.

Alat Musik Piano
istockphoto.com

Mengulas Sejarah Alat Musik Piano

Asal mula piano dapat kita telusuri dari abad ke-18 di Italia. Mereka pertama kali muncul sekitar tahun 1700 oleh Bartolomeo Cristofori. Sebelumnya, perangkat musik seperti harpsichord dan clavichord sudah populer. Namun, keduanya memiliki keterbatasan dalam dinamika suara termasuk nada keras dan lembut.

Cristofori kemudian menciptakan sebuah mekanisme baru yang memungkinkan pemain mengukur kekuatan bunyi. Khususnya berdasarkan tekanan jari yang nantinya menjadi cikal bakal kemunculan piano.

Nama asli piano sendiri adalah “gravicembalo col piano e forte” yang berarti “harpsichord dengan suara lembut dan keras”. Istilah itu kemudian orang-orang singkat menjadi “piano” supaya lebih mudah pengucapannya.

Seiring waktu, piano berkembang secara struktural maupun teknis, terutama saat memasuki abad ke-19. Tepat ketika komposer seperti Beethoven dan Chopin mulai menciptakan karya-karya monumental yang secara eksplisit mereka tujukan untuk instrumen ini.

Jenis-Jenis Piano

Pada dasarnya, alat musik piano terbagi menjadi dua jenis utama yakni tipe akustik dan elektronik. Keduanya memiliki kelebihan serta karakteristik masing-masing yang mempengaruhi suara, cara penggunaan bahkan harganya.

  1. Piano Akustik

Tipe akustik merupakan model piano tradisional yang menghasilkan suara melalui mekanisme fisik. Instrumen ini terbagi lagi menjadi dua jenis yaitu “Grand” dan “Upright”.

Di mana grand piano memiliki ukuran besar dan horizontal. Senar-senar dan hammer-nya teratur secara mendatar. Suara yang grand piano hasilkan sangat jernih. Jenis ini sering ada di konser besar karena kualitas akustiknya yang sangat unggulan.

Sementara itu, upright piano memiliki bentuk vertikal sehingga lebih hemat tempat. Meskipun kualitas suara tidak sebaik grand piano, upright tetap populer untuk penggunaan di rumah atau studio kecil.

Keduanya menghasilkan suara dari senar yang hammer pukul ketika tuts tertekan. Setiap tuts terhubung ke sebuah mekanisme kompleks bernama action. Saat tuts tertekan, hammer akan melompat dan memukul senar. Setelah itu kembali ke posisi awal tanpa menahan senar, memungkinkan senar bergetar bebas.

  1. Piano Elektronik

Selanjutnya ada piano elektronik atau digital. Seperti namanya, ini adalah alat musik piano modern yang meniru suara serta fungsi model akustik. Hanya saja sudah menggunakan teknologi digital dan tidak memiliki senar atau hammer.

Ketika tuts tertekan oleh jari, sinyal terkirim ke papan sirkuit yang menghasilkan suara melalui speaker internal. Suara yang mereka hasilkan biasanya merupakan rekaman (sampling) dari piano akustik kelas atas. kemudian melewati proses dan permainan kembali secara digital.

Meski kualitas suaranya tak semenawan model akustik, namun piano elektronik memiliki sejumlah keunggulan. Termasuk tidak perlu penyetelan atau tuning. Bahkan, para pianist bisa menggunakannya dengan headphone. Mereka juga lebih ringan dan portable

Tips Berlatih Piano

Belajar memainkan piano membutuhkan konsistensi dan kesabaran. Banyak guru musik merekomendasikan latihan minimal 30–60 menit per hari. Tergantung pada tingkat kemampuan dan tujuan pribadi.

Selain itu, berdasarkan berdasarkan channel YouTube Heidi K, belajar piano lebih baik dimulai ketika usia anak-anak. Di mana daya ingat mereka jauh lebih tajam. Sehingga untuk menguasai teknik dasar menjadi semakin maksimal. Berikut beberapa tips berlatih yang efektif.

  • Melatih jari secara rutin dengan teknik dasar dan skala.
  • Gunakan metronom untuk menjaga tempo.
  • Fokus pada satu lagu atau teknik tertentu sebelum berpindah ke yang lain.
  • Rekam latihan sendiri agar bisa mengidentifikasi kesalahan.
  • Jangan terlalu lama dalam satu sesi, lebih baik latihan singkat namun sering.

Mulai dari Piano Akustik atau Elektronik?

Bagi pemula, Heidi K menyebutkan jika piano akustik memiliki pengaruh yang cukup besar. Terutama untuk mengasah kemampuan pianist yang ingin menjadi seorang profesional. Hanya saja, harga model satu ini memang cukup mahal. Tipe grand bahkan bisa mencapai ratusan juta.

Sehingga menggunakan piano elektronik atau digital bisa menjadi pilihan yang baik. Selain harga lebih terjangkau yakni setara Rp 5-20 jutaan saja, kemudahan perawatan dan fitur-fiturnya sangat membantu proses belajar.

Dengan memahami aspek-aspek dari alat musik piano, termasuk sejarah, jenis, cara kerja, hingga tips berlatih, maka pengalaman memainkannya semakin maksimal. Apapun pilihan jenis pianonya yang terpenting adalah konsistensi dalam berlatih serta kecintaan terhadap musik itu sendiri. Apabila sulit dengan teknik otodidak atau tidak memiliki piano di rumah, disarankan ikut les. Saat ini ada banyak opsi les piano yang menawarkan biaya terjangkau dengan tetap menonjolkan kualitas belajar.