Mengenal Sejarah Alat Musik Kendang Gamelan Tradisional

Posted on

Alat musik kendang tentu bukan hal asing bagi banyak orang. Kendang tidak hanya berperan sebagai bagian dari gamelan tradisional, tetapi juga dianggap memiliki “nyawa” yang menghidupkan setiap irama yang dimainkan. Keberadaannya telah dikenal sejak ratusan tahun lalu dan menjadi elemen penting dalam berbagai pertunjukan seni tradisional. Melalui alunan kendang, tempo dan dinamika musik dapat dibentuk, memberikan warna khas pada setiap pagelaran budaya.

Namun, di balik fungsinya yang begitu besar, sudahkah kita mengetahui sejarah dari alat musik tradisional ini? Kendang tidak sekadar alat musik, melainkan juga cerminan kehidupan dan budaya masa lampau yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Memahami sejarahnya dapat memberi gambaran tentang kekayaan seni dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat zaman dahulu.

Alat Musik Kendang
Pixabay.com

Sejarah Alat Musik Kendang Gamelan Tradisional

Seperti yang telah diketahui, kendang merupakan salah satu alat musik tradisional yang memiliki sejarah panjang dan penting. Kendati demikian, belum banyak orang yang benar-benar memahami asal-usulnya. 

Mengutip dari kanal YouTube Historipedia 1, kendang diperkirakan sudah ada sejak zaman logam prasejarah Indonesia, khususnya pada masa perunggu. Alat musik ini termasuk dalam kategori membranofon karena bagian penghasil bunyinya berasal dari kulit hewan. Menariknya, ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa kendang telah digunakan sejak zaman neolitikum. Pada masa tersebut, bentuknya masih sangat sederhana, yakni berupa batang kayu berongga dengan salah satu ujung ditutup menggunakan kulit hewan.

Perkembangan penting terjadi pada abad pertengahan ketika kendang mulai dikenal luas di Pulau Jawa, terutama di wilayah Jawa Tengah. Instrumen ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa Kuno dan tercatat dalam berbagai peninggalan sejarah sejak pertengahan abad ke-9 Masehi. 

Pada masa itu, kendang dikenal dengan beberapa nama berbeda, seperti gendang pahadi dan muraba. Kedua nama ini ditemukan dalam piagam Jawa Kuno yang berasal dari tahun 821 dan 850 Masehi. Istilah pahadi dan muraba juga tercatat dalam prasasti Kuburan Candi yang berangka tahun 821 M, menunjukkan bahwa keberadaan kendang telah diakui secara resmi dan memiliki fungsi penting dalam kehidupan budaya masyarakat kala itu.

Kendang Pada Masyarakat Bali dan Sunda

Prasasti Sukawana pada angka 882 M menjadi bukti bahwa adanya alat musik kendang di Bali, sudah ada dan dikenal sejak zaman dulu. Pada prasasti tersebut, bertuliskan instrumen kendang yang dituliskan menggunakan bahasa Bali Kuno.

Sedangkan pada masyarakat Sunda, alat musik ini dimainkan dan berkembang bersamaan dengan adanya kesenian wayang golek. Kesenian ini sudah ada sejak para Walisongo melakukan dakwah secara terpisah-pisah.

Keberadaan Kendang Pada Setiap Candi

Setiap daerah di Indonesia memiliki sebutan berbeda untuk kendang, disesuaikan dengan bentuk, ukuran, serta bahan pembuatannya. Meskipun nama dasarnya tetap “kendang”, variasi bentuk dan gaya dari masing-masing wilayah menciptakan penamaan yang beragam. 

Salah satu contoh adalah kendang Damaru, alat musik berukuran kecil yang dikenal sebagai atribut Dewi Saraswati. Keragaman ini menjadi bukti bahwa alat musik kendang kendang tidak hanya memiliki fungsi musikal, tetapi juga nilai budaya dan sejarah yang tinggi, sebagaimana terlihat dari berbagai relief yang terukir di candi-candi kuno.

Di Candi Prambanan misalnya, terdapat penggambaran kendang pada pagar langkan. Alat musik ini digambarkan digantung menggunakan tali dan diletakkan tepat di bawah perut pemainnya. Sementara di Candi Borobudur, pada awal abad ke-9 Masehi, ditemukan lukisan kendang dengan berbagai bentuk seperti tong asimetris, kerucut, hingga silindris ramping. 

Beralih ke Candi Tegowangi dari abad ke-14, terdapat relief yang menggambarkan seseorang membawa kendang silindris yang dikalungkan di kedua bahu menggunakan tali. Sedangkan di Candi Penataran, juga dari abad ke-14, relief menunjukkan kendang dengan satu sisi selaput yang ditabuh menggunakan pemukul bulat.

Ragam Kendang Nusantara

Kendang Sunda dari Jawa Barat terbagi jadi kendang indung dan kulanter, dimainkan dalam jaipongan, kliningan, ketuk tilu, hingga rampak kendang. Di Jawa Timur ada kendang sentul dari Blitar, gendang gandrung Banyuwangi, gendang janger, dan kendang reog Tulungagung. Jawa Tengah mengenal gendang ageng, wayangan, ciblon, dan ketipung, penting dalam gamelan. 

Gendang panjang Kepulauan Riau dibuat dari kayu merbau, punya sisi induk dan anak. Gendang beleq Lombok berukuran besar, dulu untuk menyemangati prajurit. Gendang beriak Dayak Kalimantan berbentuk ramping di tengah. Marwas dari Gorontalo, gedombak dan gendang silat dari Riau, serta gendang nobat Melayu yang sakral dan hanya dimainkan keluarga tertentu melengkapi kekayaan alat musik kendang Nusantara yang memadukan fungsi seni, adat, hingga spiritual.

Cara Memainkan Kendang

Kendang dimainkan dengan cara dipukul atau ditabuh, baik menggunakan tangan maupun alat pemukul khusus. Meski terlihat sederhana, memainkannya tidak bisa asal pukul; perlu pemahaman tempo, ritme, dan teknik pukulan agar menghasilkan bunyi selaras dengan instrumen lain. 

Menurut Teknik Permainan Kendang Tunggal pada Gamelan Bali karya Pryatna dan Sudirga (2021), latihan rutin dan pengalaman sangat penting untuk menguasai kendang. Pemain harus mampu menjaga irama agar tetap harmonis dalam ensambel musik tradisional, seperti gamelan atau pertunjukan tari, sehingga kendang dapat berfungsi optimal sebagai penentu tempo dan penguat ekspresi musik.

Dengan melihat berbagai bukti sejarah ini, jelas bahwa kendang memiliki akar budaya yang sangat dalam dan telah dikenal sejak zaman kuno. Sayangnya, banyak orang saat ini hanya mengenal kendang sebagai alat musik yang dimainkan dalam acara tradisional, tanpa mengetahui jejak sejarah panjang yang menyertainya. Melalui informasi ini, diharapkan pemahaman terhadap alat musik kendang menjadi lebih utuh. /zella